ANALISIS PENYEBARAN ISU VIRAL “POCONG BERSAJAM” DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF AGENDA SETTING
Mutiara Al Ahsa | 26 May 2026
Login Google ❤️ 0Perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet telah mengubah pola komunikasi masyarakat saat ini. Munculnya media sosial membuat informasi bergerak sangat cepat melalui berbagai platform populer seperti Instagram, TikTok, X dan Whatsapp meskipun tanpa verifikasi yang jelas. Konten viral dengan banyak views, like, komen dan share tanpa proses verifikasi dapat menyebabkan terjadinya penyebaran hoaks dan memicu berbagai respons masyarakat.
Isu yang ramai diperbincangkan masyarakat saat ini adalah fenomena pocong bersajam atau pocong bersenjata tajam. Salah satu video yang viral di jagat internet ini diunggah oleh akun X @B3doel yang diunggah pada 24 mei 2026, menampilkan pocong membawa senjata tajam sedang mengetuk jendela rumah warga pada malah hari dengan narasi “yang lagi viral pocong bersajam, sudah sampai area kaliangkrik magelang, terakhir ada yang melihat sudah sampai sambak kajoran”. Video tersebut ditonton hingga 2,1jt dan diposting ulang sebanyak 1,7rb pengguna X. Tidak memerlukan waktu lama, video tersebut beredar di platform lain seperti Instagram dan TikTok dengan views yang sama banyaknya.
Fenomena di atas dapat dikaji melalui Teori Agenda Setting yang dikembangkan oleh Maxwell McComb dan Donald L. Shaw. Teori agenda setting mengatakan bahwa media berfungsi sebagai pencipta suatu program atau agenda dan apabila media memasok tekanan terhadap sesuatu peristiwa maka media mendorong publik menganggap penting peristiwa tersebut (Sofyan et al., 2020). Dengan kata lain, semakin sering suatu isu diperlihatkan di jagat internet atau media sosial, maka semakin besar perhatian masyarakat terhadap isu tersebut. Fenomena “pocong bersajam” kini menjadi perhatian publik karena masyarakat terus terpapar berita tersebut di media sosial melalui fitur posting ulang, bagikan, pesan berantai dan algoritma konten. Perhatian masyarakat yang besar memicu berbagai respons dan menimbulkan kepanikan publik.
Fakta lain terungkap dalam unggahan video di akun instagram @liputan.magelang yang memberitakan bahwa Plt Kapolsek Kajoran AKP menyebut narasi yang beredar di media sosial menimbulkan keresahan warga. Keterangan juga diberikan Kapolsek Kaliangkrik, AKP Achirul Yahya yang mengaku telah berkoordinasi dengan warga dan tidak menemukan seperti yang dinarasikan di media sosial. Namun unggahan video ini tidak cukup membuat masyarakat berhenti menaruh perhatian pada fenomena “pocong bersajam”. Hal ini karena intensitas penyebaran video serupa semakin tinggi bahkan beredar di kota-kota lain sehingga membuat masyarakat tetap memberikan perhatian pada isu viral “pocong bersajam”.
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki peranan dalam menaruh perhatian dan membentuk persepsi publik. Paparan video yang terus berulang mampu membuat publik menaruh perhatian sehingga menganggap isu tersebut penting dan nyata meskipun tanpa ada verifikasi kebenaran. Ini sejalan dengan teori agenda setting yang mampu menjelaskan bagaimana kekuatan media sosial dengan penyebaran informasi berulang membuat masyarakat menanggapi isu tersebut menjadi penting. Fenomena “pocong bersajam” menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh dalam menarik perhatian publik dan menimbulkan berbagai respons masyarakat.
REFERENSI :
Sofyan, A., Laksono, P., & Chabibi, M. (2020). STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK ULAMA NAHDLATUL WATHAN PANCOR DALAM MEMBENTUK OPINI PUBLIK PADA PEMILIHAN UMUM PRESIDEN TAHUN 2019. Al-Tsiqoh: Jurnal Ekonomi dan Dakwah Islam, 5(2), 57-73. https://doi.org/10.31538/altsiq.v5i2.965
Eko Susanto. (2026). Viral Pocong Bersajam di Magelang Bikin Geger Warga, Ini Faktanya. detikjateng. Diakses pada 26 mei 2026.
Beri Penilaian
Login Google untuk memberi komentar.
Komentar
Belum ada komentar.